Candi Ijo, Wisata Sejarah di Atas Awan
Candi Ijo, Wisata Sejarah di Atas
Oleh : Ananda Fauzi Munawaroh
Jalan-jalan ke Jogja tapi belum mampir ke Candi Ijo? Belum afdol banget nih Mlaku Lovers. Jika kamu suka bewisata dengan nuansa sejarah maka Candi ijo adalah jawabannnnya. Eiitss buat kamu yang suka mencari tempat wisata alam Candi Ijo ini juga sangat rekomendasi loh. Objek wisata ini terletak di bukit dengan hamparan alam yang hijau dan view kota Jogja dari atas. Pemburu sunset atau sunrise juga ga boleh ketinggalan buat berkunjung ke destinasi wisata yang letaknya seperti di negeri awan karena ketinggian lokasi yang mencapai 427 dpl.
Mlaku lovers, tau gak sih kalau Candi Ijo merupakan candi yang letaknya paling tinggi di Yogyakarta. Dari ketinggian lokasi, wisata ini seperti berada diatas awan sehingga menyuguhkan pemandangan alam yang mempesona. Candi ijo yang terletak di terletak di Bukit Ijo, Sambirejo, Prambanan, Kabupaten Sleman Yogyakarta masih dijangkau dengan kendaraan umum, seperti motor, mobil dan bus dengan waktu tempuh sekitar 30 menit dari Bandara Adisucipto. Layaknya peribahasa “sekali dayung dua pulau terlampui” begitulah perjalanan menuju kemari. Sebelum sampai di Candi Ijo, ada beberapa destinasi wisata yang bisa dikunjungi, seperti Candi sambisari, Candi Ratu Boko dan Tebing Breksi.
Candi Ijo dibangun pada era Kerajaan Mataram Kuno pada sekitar abad ke-9 dan ditemukan tahun 1886 oleh administratur pabrik gula Sorogedug secara tidak sengaja saat sedang mencari lahan guna tempat penanaman tebu. Nama Candi Ijo sendiri diambil karena lokasinya di perbukitan Gumuk Ijo, Kabupaten Sleman. Nama tersebut sudah dikukuhkan di prasasti Poh yang berasal dari tahun 906 M. Jika hal itu benar maka nama “Ijo” setidaknya telah berusia 1116 tahun.
Dalam kitab-kitab India kuno mengungkapkan bahwa pemilihan tempat untuk mendirikan candi dinilai sangat berharga karena lahan merupakan tempat tinggal paling utama bagi para Dewa. Syarat lahan untuk lokasi pembangunan candi harus di atas tanah yang subur dan dekat dengan sumber air. Tapi tidak halnya dengan Candi Ijo, dimana lokasi pembangunnya berada di tanah yang tidak subur dan jauh dari sumber air. Hal ini juga yang menjadi daya tarik tersediri dari Candi Ijo.
Keunikan lain dari candi ini yaitu kompleks percandian yang berteras-teras yang semakin meninggi ke belakang. Pola ini biasanya ditemukan pada candi-candi di Jawa Timur. Kebanyakan candi di dataran Prambanan berpola memusat ke tengah, seperti Candi Prambanan dan Candi Sewu.
Struktur Candi Ijo memiliki 17 teras yang teridri dari 17 bangunan candi, terdapat candi yang beratap dan tidak beratap. Dari ke 17 teras, tidak semuanya ditemukan candi seperti halnya di teras kedua, ketiga, keenam, ketujuh, dan kesepuluh. Candi Induk terletak di teras paling atas dengan ketinggian mencapai 16 meter dan luas 18,43 x 18,45 meter. Jika memasuki ke dalam candi ini maka akan ditemukan benda berbentuk silinder yang menancap pada benda berbentuk persegi panjang atau disebut lingga-yoni. Kemudian di depan candi induk terdapat tiga candi perwara yang memiliki ukuran dan benda sejarah berbeda antara satu dengan lainnya.
Dilihat dari bangunannya yang sampai saat ini masih berdiri megah konon pada saat pembangunannya menggunakan bebatuan yaang diambil dari berbagai tempat, seperti dari Gunung Merapi. Selain itu, pemerintah setempat juga terus melakukan upaya pelestarian Candi Ijo sehingga kini candi tersebut terlihat lebih asri dan ramai dikunjungi wisatawan. Tiket masuknya juga terbilang cukup murah, yaitu berkisar 7.000 perorang tanpa ada biaya tamban untuk dapat memasuki semua area candi.
(Foto di Candi Perwara) (Foto di Candi Induk)
Menurut Laela, “Tempat wisata ini sangat cocok untuk liburan bersama keluarga karena area yang luas dan banyak tempat untuk bersantai di bawah pohon rindang.” Saat cuaca sedang cerah, berfoto di teras utama sangat rekomendasi untuk kamu yang berburu spot instagrameble. Gak percaya? Buktiin aja sendiri.




Komentar
Posting Komentar